Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

JawaPos. com – Sebesar 11 anggota DPR sudah disuntik vaksin Nusantara pada RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta pada Kamis (22/4) tersebut. Satu diantara anggota DPR RI yang ikut disuntik, Anas Tahir mengaku merasa tidak merasakan efek samping setelah disuntik vaksin Nusantara tersebut.

Sehingga dirinya mengucapkan terima kasih kepada mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto jadi penggagas vaksin Nusantara tersebut.

“Setelah divaksin saya merasa nyaman, dapat kasih Pak Dokter Terawan, ” ujar Anas pada wartawan, Kamis (22/4).

Sementara terpisah, anggota Komisi IX DPR Taat Partaonan Daulay juga mengiakan setelah disuntin vaksin Nusantara ini dirinya tidak merasakan efek sampingnya.

“Saya sudah disuntik sesuai dokter Terawan langsung tenang saja, tidak ada perkara apa-apa. Jadi enggak tersedia itu 74 persen dengan sakit-sakit itu enggak ada, ” katanya.

Sementara Wakil Ketua Komite IX DPR Melki Laka Lena mengatakan suntik vaksin yang dilakukan oleh bagian dewan ini membuktikan vaksin tersebut sangatlah aman untuk masyarakat. “Kami semua mau membuktikan bahwa DPR itu untuk kepentingan bangsa tersebut, ” tutur Melki.

Berikut ini ialah nama-nama anggota DPR yang sudah disuntik vaksin Nusantara, Anas Tahir, Saleh Partaonan Daulay, Melki Laka Cuai, Sufmi Dasco Ahmad, Firman Subagyo, Saniatul Lativa, Sri Meliyana, Arzeti Bilbina, Nihayatul Wafiroh, Robert Kardinal, dan Adian Napitupulu.

Diketahui, langkah anggota lembaga berbondong-bondong menerima penyuntikan vaksin Nusantara ini bertentangan secara sikap BPOM. Hingga era ini, BPOM belum meluluskan tim Vaksin Nusantara melanjutkan riset uji klinis ke tahap II.

Alasannya menurut Kepala BPOM Penny Lukito, tim belum melaporkan tindakan korektif yang telah diminta atas barang apa yang sudah dikerjakan dalam uji klinis tahap kepala. Vaksin Nusantara yang dikembangkan dari sel dendritik yang biasa digunakan dalam terapi kanker, Penny menerangkan, sedang harus memenuhi beberapa sarana.

Di antaranya, cara uji klinik yang baik ( good clinical practical ), proof of concept, good laboratory practice dan cara pembuatan obat yang tertib ( good manufacturing practice ).

Terawan dkk, kata pendahuluan Penny, telah mengabaikan penuh aspek dalam pelaksanaan uji klinis fase I. Di antaranya, proof of concep t yang belum terpenuhi & antigen yang digunakan di dalam vaksin tersebut tidak memenuhi pharmaceutical grade.

Hasil dari uji klinis fase I terkait kebahagiaan, efektivitas atau kemampuan potensi imunogenitas untuk meningkatkan antibodi juga dinilai belum menetapkan.