JawaPos. com – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP menegaskan komitmennya untuk disipilin dalam melaksanakan protokol kesehatan Covid-19.   Kejadian ini demi memastikan pilkada lulus di tengah pandemi.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dalam diskusi virtual yang digelar Pemuda Muhammadiyah dengan tema ‘Korona dan Benang Kusut Pilkada 2020’ pada Sabtu (10/10) malam.

Hadir dalam acara tersebut, Ketum Pemuda Muhammadiyah Sunanto, Sekjen PAN Eddy Soeparno, Plh Pemimpin KPU Ilham Saputra, Komisioner Bawasli Afifuddin, dan Direktur Politik Bainteklam Polri Brigjen Anthony MT Siahaan.

Mengenai disiplin aturan kesehatan Covid-19, kata Hasto, PDIP telah menunjukkan sikap yang terang. Terbukti Pada 4 Februari 2020 yang lalu, partai besutan Megawati Soekarnoputri itu telah menyosialisasikan pencegahan Covid-19. Pada Maret selanjutnya, PDIP mengeluarkan instruksi kepada kadernya untuk meningkatkan imunitas tubuh dengan rempah-rempah yang dimiliki Indonesia.

Lalu, PDIP juga menginstruksikan kepala daerah dari partai itu untuk mengambil kebijakan realokasi anggaran secara membuat program-program yang melindungi rakyat. Selain itu, kata Hasto, PDI Perjuangan juga mencanangkan gerakan memendam. Termasuk menekankan, seluruh kegiatan partai, mulai dari rapat, Sekolah Kelompok, hingga konsolidasi partai, menggunakan telekonferensi.

“Dulu cangkul sebagai alat perjuangan kaum Marhaen, sekarang handphone ini kita bisa membiasakan, kita bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menggunakan teknologi IT, ” kata Hasto di keterangan tertulisnya pada JawaPos. com.

Bukan hanya itu, lanjut Hasto, untuk mendorong para-para paslon di Pilkada Serentak 2020 agar taat protokol kesehatan Covid-19, PDIP membentuk Tim Penegak Peraturan Protokol Kesehatan pada September berserakan. “Di mana kader partai yang melanggar ketentuan Covid itu saya berikan sanksi, ” jelas Hasto.

Hasto juga menekankan pihaknya akan mengedepankan kampanye daring selama Pilkada Serentak 2020 & menemui rakyat dari pintu ke pintu. Di samping itu, Hasto juga mengharapkan pemilu menjadi bagian dari konsolidasi demokrasi untuk beranak pemimpin yang visioner, kokoh dalam ideologi Pancasila, memiliki kemampuan teknokratik dan bertanggung jawab terhadap era depan.

Dalam dialog itu, Hasto menjelaskan, Indonesia diapit dua benua dan dua samudera serta memiliki sejarah bangsa yang sangat panjang. Selain itu, pandemi Covid-19 telah membawa arah bani ke dalam kondisi yang suram, baik dari sosial, ekonomi, & kesehatan. Karena itu, menurutnya, Pilkada harus ditempatkan sebagai sebuah konsolidasi untuk mengamankan seluruh Indonesia, lantaran Sabang sampai Merauke.

“Jangan sampai di tengah krisis kemudian tidak ada suatu kepemimpinan yang memiliki legitimasi, legalitas dengan sangat kuat untuk mengambil sejenis tindakan, tindakan yang diperlukan buat menyelamatkan rakyat. Kita semua mengalami enggak ada pemimpin yang sedia mengorbankan rakyatnya, ” kata Hasto.

Lebih lanjut, Hasto menilai, semua kebijakan yang diambil pemerintah saat ini selalu berdasar pada kepentingan untuk melindungi & memberikan kepastian hukum yang nyata.

“Mari kita berikan kepercayaan kepada Presiden-Wakil Presiden, seluruh jajaran menteri, kepala daerah di tingkat provinsi, kabupaten, kota buat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya tanpa diganggu oleh berbagai hal dengan bisa memecah belah persatuan kita, ” ujar Hasto.

“Termasuk kemampuan untuk memberikan jalan kepada rakyat yang tengah dihadapkan dengan berbagai masalah akibat pandemi, ” kata politikus asal Yogyakarta ini.

Selain tersebut, lanjut Hasto, konsolidasi demokrasi Nusantara harus mendorong sistem pemilu dengan semurah-murahnya serta membangun sistem pemilu yang didasarkan pemilu asimetris. Pokok, Hasto melihat saat ini demokrasi Indonesia diancam dengan praktek hoaks dan fitnah.

“Kemudian resolusi konflik juga diperlukan menetapi kita bangsa yang mengedepankan sepadan musyawarah. Maka itu, kami berniat bersama dengan Pemuda Muhammadiyah tersebut bersama-sama dapat meningkatkan kualitas demokrasi kita, ” kata Hasto.

Di samping itu, tambahan Hasto, sebagai bangsa yang kenyang digembleng sejarah, PDIP meyakini gabungan bisa dikedepankan selama musyawarah menjelma metode penyelesaian persoalan. Hasto tahu hal itu merupakan syarat untuk menjadi negara yang besar sesuai yang pernah dilakukan Bung Karno dengan menggagas Konferensi Asia-Afrika di 1955.

“Kesatupaduan diperlukan bersama untuk membangun harapan bahwa kita masih punya satu perintah yang mahapenting untuk menjadikan Nusantara menjadi pemimpin di antara bangsa-bangsa lain sebagaimana dulu terjadi pada Konferensi Asia-Afrika pada 55. Mari kita terus bergerak, kita kedepankan semangat persaudaraan, ” tegas Hasto.