JawaPos. com – Subagio Sastrowardoyo dan Sapardi Djoko Damono adalah dua empu sastra Indonesia yang meninggalkan karya-karya kuat. Subagio tak hanya lihai dalam menulis prosa, penyair kemunculan Madiun itu juga lihai pada puisi. Karyanya punya kedalaman filosofis, sedangkan Sapardi selain matang pada puisi liris juga punya sebesar karya kuat berupa fiksi mini. Di Musim Seni Salihara, 4 karya dari Subagio dan Sapardi hadir dalam sebuah pembacaan huruf bertajuk Dari Besar Empu Sastra .

Kurator Sastra Komunitas Salihara Cantik Utami menyebut Subagio dan Sapardi adalah nama penting dalam sastra modern Indonesia. ’’Subagio memecah stagnasi sastra di masa 1950 seragam dengan menghadirkan intelektualisme dalam sajak tanpa kehilangan kekuatan simbolisnya, ’’ kata Ayu dalam pengantaranya. Sementara, menurut Ayu, Sapardi adalah sastrawan yang melanjutkan tradisi puisi lirik warisan Amir Hamzah tapi pula kuat dalam sajak-sajak imagis serta puisi prosa.

Interpretasi karya Subagio dan Sapardi itu disajikan dalam bentuk rekaman dengan tayang di kanal media sosial Komunitas Salihara. Di babak baru, fiksi mini berjudul Saksi karya Sapardi Djoko Damono dibacakan oleh Dayang Ayudya. Lalu, puisi karya Subagio berjudul Mata Penyajak dibacakan oleh Muhammad Khan. Lalu, di babak kedua ada pembacaan fiksi mini berjudul Polisi Patung karya Sapardi Djoko Damono oleh Putri dan puisi Manusia Pertama di Udara Luar karya Subagio oleh Khan.

Putri dan Khan menyiapkan pembacaan karya tersebut sekitar dua pekan pra perekaman. Keduanya sama-sama sepakat bahwa pelisanan teks menjadi yang pokok sebelum memikirkan sudut-sudut pengambilan gambar saat perekaman. ’’Kami berpikir karena ini sastra, maka pelisanan sebutan dengan jelas untuk yang mendengarnya menjadi hal penting, ’’ sekapur Putri.

Putri dan Khan adalah dua nama dengan dekat dengan teater sekaligus rajin di dunia film Indonesia keadaan ini. Dalam pembacaan Dari Dua Empu Sastra, keduanya melisankan susunan Subagio dan Sapardi dengan tertib. Godaan untuk mendeklamasikan teks dengan berlebihan dapat mereka hindari. Retakan kemungkinan memerankan aku lirik tidak mereka hindari dan tetap muncul dengan tertata. Sayang, perekaman tanpa menggunakan mikrofon menjadikan audio pengajian mereka menjadi tak bersih dari gema.

Putri adalah aktris yang telah bermain dalam banyak panggung teater. Putri menimbrung mendirikan Teko, Teater Psikologi, Universitas Indonesia. Dia juga ikut membintangi sejumlah film seperti Guru Bangsa: Tjokoraminoto (2015), Wage (2017) dan terbaru, Mudik (2020). Putri pernah masuk dalam nominasi Aktris Terbaik pada Festival Hidup Indonesia 2018.

Tatkala, Muhammad Khan adalah aktor pemain tonsil dan film yang mendalami halus peran di Jurusan Teater, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta (2009-2016). Setelah itu ia bermain dalam beberapa film pendek. Ia mengasaskan debutnya di film panjang pada film 𝘒𝘶𝘤𝘶𝘮𝘣𝘶 𝘛𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘐𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘶 (2018) karya Garin Nugroho. Melalui hidup itu ia pun diganjar jadi Pemain Utama Pria Terbaik dibanding Festival Film Indonesia 2019. (tir)