Info seputar HK Hari Ini 2020 – 2021.

JawaPos. com – 2020 menjelma tahun yang kelam bagi Kejaksaan Agung (Kejagung) RI. Sebab pada tahun ini, tepatnya bulan Agustus kebakaran hebat melanda gedung sempurna Kejaksaan Agung di Jalan  Sultan Hasanudin Dalam  Nomor 1, Kelurahan Kramat Pela, Kecamatan Kebayoran Mutakhir, Jakarta Selatan.   Akibat kebakaran ini, satu gedung hangus menyala dan harus direnovasi total.

“Terima berita  kebakaran jam 19. 10 WIB, ” kata  Kasi Ops Sudin Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan, Sugeng dalam tanda tertulis, Sabtu (22/8).

Dalam video yang beredar, elektrik berasal dari samping kiri gedung. Kobarannya terlihat cukup besar. Sebanyak pengendara yang melintas terlihat banyak berhenti menyaksikan kebakaran tersebut. Jaksa Agung, ST. Burhanuddin menyebut cukup banyak titik api yang mengganyang gedung kerjanya. “(Yang terbakar) Jawatan kepegawaian, biro keuangan, dan biro umum, ” kata Burhanuddin di lokasi.

Dia menyebut berkas perkara ditempatkan di gedung bagian  belakang. “Tidak ada. Disini adalah SDM aja. Tahanan pada belakang, aman. Aman semua. Siap berkas perkara, tahanan, aman, ” pungkas Burhanuddin. Hasil penyelidikan forensik dari sejumlah serpihan kebakaran, disimpulkan bahwa kebakaran terjadi akibat adanya sumber api yang menyala. Tetapi, dipastikan tidak sengaja dibakar.

“Puslabfor menyebutkan bahawa bukan karena arus pendek tapi karena nyala api terbuka (open flame), ” kata Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (17/9).

Sangkaan ini diperkuat dengan keterangan banyak orang pekerja renovasi gedung yang mencari jalan memadamkan api. Namun, karena tidak didukung oleh peralatan yang memadai, akhirnya api membesar hingga merambat ke bagian gedung yang lain.

“Kemudian api itu semakin membesar mau tidak bakal dimintakan kepada Dinas Pemadam Kebakaran untuk pemadaman lebih lanjut, ” ucap Listyo.

Obor sendiri diduga muncul pertama kali dari lantai 6 gedung sari Kejagung. Selanjutnya dengan cepat merambat ke lokasi lain dengan adanya cairan-cairan mudah terbakar yang beruang dalam gedung. Selain itu, bagian gedung juga banyak terbuat daripada benda mudah terbakar seperti gypsum, lantai parkit, panel HPL, dan sejenisnya, membuat api semakin mungkin membesar.

Polri kemudian menduga adanya unsur pidana pada kasus tersebut, sehingga proses pengkajian dinaikan menjadi penyidikan. “Peristiwa dengan terjadi sementara penyidik berkesimpulan bisa dugaan peristiwa pidana, ” introduksi Listyo.

Dugaan adanya unsur pidana ini dikuatkan berdasarkan pemeriksaan 131 orang saksi. Kemudian dilengkapi dengan olah Tempat Perihal Perkara (TKP) yang dilakukan 6 kali dan pemeriksaan laboratorium forensik. “Kami berkomitmen sepakat untuk tak ragu-ragu memproses siapapun yang terlibat. Jadi saya harapakan tidak ada polemik lagi, ” tegas Listyo.

Setelah proses lama, Penyidik Gabungan Bareskrim Polri menetapkan 8 orang tersangka kasus kebakaran ini. 8 orang tersebut dianggap bertanggung jawab karena dianggap cabar sehingga mengakibatkan api muncul.

Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono mengatakan, penetapan tersangka ini berdasarkan 6 kali olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Penyidik juga telah meminta fakta 131 orang, di mana 64 di antaranya dijadikan saksi.

“Setelah gelar perkara disimpulkan ada kealpaan. Semuanya kita lakukan dengan ilmiah untuk bisa membuktikan. Kita tetapkan 8 tersangka karena kealpaan, ” kata Argo dalam Mabes Polri, Jakart Selatan, Jumat (23/10)

Mereka yang ditetapkan tersangka yakni 5 karakter tukang bangunan berinisial T, H, S, K, IS, sebagai bagian yang merokok dalam gedung Kejagung. Mandor berinisial UAM yang tidak mengawasi kerja para tukang. Eksekutif Utama PT ARM berinisial R sebagai penjual cairan pembersih bermerk Top Cleaner yang tidak mempunyai izin edar. Dan Direktur Penguasa Pembuat Komitmen (PPK) Kejagung berinisial NH yang bertanggung jawab pada kesepakatan pembelian cairan pembersih Sempurna Cleaner.

Sementara itu, Direktur Tindak Pidana Umum (Dirtipidum) Bareskrim Polri saat itu, Brigjen Pol Ferdy Sambo mengatakan, panas puntung rokok berasal dari 5 pekerja bangunan di lantai enam. Saat bekerja, mereka turut membakar rokok.

“Kesimpulam pemeriksa penyebab awal karena kelalaian 5 tukang yang bekerja di ruangan lantai 6 tersebut. Harusnya tidak merokok karena di situ banyak bahan berbahaya mudah terbakar, ” kata Sambo.

Puntung rokok itu kemudian memicu api membesar. Sebab, di sekitar pakar bekerja banyak bahan mudah menyala. Seperti kertas, kayu, tiner, lem aibon dan lain-lain.

“Api pertama muncul di Aula Biro Kepegawaiam. Ini diketahui berdasarkan saksi yang melihat pertama obor muncul dan berdasarkan orang dengan ikut memadamkan api pertama kala, ” jelas Ferdy.

Ahli Kebakaran Universitas Indonesia, Yulianto menyebut jika kebakaran terjadi sejenis dahsyat. Sebab, api yang menyala diperkirakan mencapai 900 derajat celcius. “Api cepat sekali tumbuh sampai ke temperatur sekitar 700-800 bahkan sampai 900 derajat celcius, ” kata Yulianto.

Gambaran terperatur api ini disimpulkan bersandarkan pengamatan terhadap warna beton yang terbakar. Akibat suhu api dengan sangat tinggi, menyebabkan kaca di lantai 6 gedung Kejagung berserakan. Sebab, batas maksimal panas yang bisa ditahan kaca yakni 120 derajat celcius.

“Ketika kaca pecah maka api mau menjilat keluar, karena api membutuhkan oksigen untuk terus tumbuh, ” imbuh Yulianto.

Pecahnya kaca gedung Kejagung ini dengan turut membantu proses perambatan api hingga menjalan ke bagian tempat, dan bawah maupun ke bagian gedung yang lain. Sebab kala terbakar akan terjadi hukum perpindahan kalor berupa terjadi konduksi, konveksi, dan radiasi.

Wujud yang berada di depan suluh maka akan langsung terbakar. Dalam kasus di Kejagung terdapat material aluminium komposit panel di arah instalasi. Materilal tersebut mempunyai komponen yang mudah terbakar. Setelah proses penyidikan lanjutan, Bareskrim kembali menetapkan 3 orang tersangka. Tersangka tambahan ini diduga sebagai pihak dengan lalai dalam pengadaan cairan pembersih lantai gedung kejagung.

“Dari gelar perkara tadi pemeriksa dari hasil kesimpulan menetapkan 3 tersangka yaitu inisial MD, inisial J dan inisial IS, ” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (13/11).

Argo menjelaskan, tersangka MD berperan sebagai pihak yang meminjam bendera PT APM sekaligus mengatur semua pengadaan minyak pembersih lantai merk Top Cleaner. Kemudian tersangka J tidak menyurvei terlebih dahulu gedung Kejagung sebelum pengadaan cairan pembersih. Dia juga tidak memiliki kualifikasi sebagai konsultan perencanaan.

Sementara itu tersangka IS merupakan mantan pegawai Kejagung. Tempat diduga lalai dalam pengadaan cairan pembersih lantai karena memilih konsultan yang tidak berkompeten. Konsultan dengan dipilih juga tidak melakukan pemeriksaan gedung Kejagung.

“Ketiga tersangka kita kenakan pasal 188 KUHP dan kita Juncto kan pasal 55 huruf 1 pertama KUHP. Ancamannya di atas 5 tahun, ” jelas Argo.