JawaPos. com – Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) adalah organisasi besar yang menaungi pelukis menguasai dan mulut di dunia. AMFPA menjadi semacam rumah bersama untuk para pelukis yang tak menggunakan tangan saat menciptkan karya. Setiap tahun, AMFPA menetapkan 5 September sebagai hari peringatan internasional pelukis mulut dan kaki.

’’Tanggal tersebut bertepatan dengan wafatnya pendiri AMFPA, ’’ kata Setia Subadri, salah satu anggota AMFPA dari Indonesia. Pada 5 September 1984, Arnulf Erich Stegmann dengan menjadi pendiri AMFPA mangkat. Tempat adalah pelukis dari Jerman dengan melukis dengan menggunakan mulut serta menjabat presiden pertama AMFPA. Sejak itu, tanggal kepergian Stegmann ditetapkan AMFPA sebagai hari internasional pelukis kaki dan mulut.

Para anggota AMFPA di seluruh dunia banyak yang memperingati momentum tersebut dengan beragam cara. Pada Salatiga, Sabar Subadri menggelar keterangan itu di galeri sekaligus studionya. ’’Tujuan acara ini adalah untuk meningkatkan public awareness seluasnya mengenai keberadaan pelukis tanpa tangan di seluruh dunia, ’’ katanya.

Peringatan itu Sabar gelar bersama para disabilitas dari Roemah D, Semarang. Selain membicarakan AMPFA dan jejak kreatif para anggotanya, peringatan di Saung Kelir tersebut juga dilengkapi dengan melukis beriringan. Bukan melukis dengan tangan, melainkan kaki. Mereka yang bertangan diajak untuk menjajal bagaimana melukis secara menggunakan kaki. Tentu saja hal itu menjadi tantangan tak mudah bagi para peserta yang mengikutinya.

Di Indonesia, Sabar tidak sendirian menjadi anggota AMFPA. Faisal Rusdi (Bandung), Agus Yusuf (Madiun), M. Amatullah (Gresik), M. Asroel (Tabanan), Sadikin Pard (Malang), dan Salim Harama (Yogyakarta) adalah beberapa pelukis Indonesia lainnya yang bergabung di AMFPA. Di sistem tersebut, para anggotanya diwajibkan mengirim karya secara berkala. Karya-karya itu lantas direproduksi ke dalam beragam bentuk dan para penciptanya mendapat honor.

AMFPA mulanya hanya beranggotakan 18 orang. Saat ini, organisasi itu memiliki anggota kira-kira 800 seniman. Mereka tersebar di 72 negara di dunia. Sistem ini berdiri pada 1957 dalam Vaduz, Liechtenstein, yang terletak pada antara Swiss dan Austria. Sejak bediri, AMFPA menegaskan posisi para seniman dengan keterbatasan fisik bukan berarti juga terbatas dalam kejadian kemampuan mencipta karya. (tir)