JawaPos.com – Di Indonesia, jumlah pertunjukan dan teater dalam setahun boleh jadi mencapai ribuan. Tentu saja semuanya melibatkan sumber daya yang tak kecil. Sayang, dinamika pertunjukan dan teater di Indonesia seringkali hanya selesai di atas panggung. Pertunjukan dan teater sebagai sebuah produksi pengetahuan lantas kerap luput menjadi perhatian. Kalah oleh euforia seiring tepuk tangan penonton hingga beragam unggahan di media sosial. Pertunjukan dan teater semestinya bukan sekadar peristiwa panggung yang melulu berkutat pada persoalan artistik belaka, sementara teater dan pertunjukan sendiri tak melulu mesti terjadi di atas panggung dalam ruang tertutup.

Apa yang terjadi di atas panggung dan sesudahnya sepatutnya diikuti oleh munculnya refleksi dan catatan yang dapat menghasilkan pengetahuan bersama bagi para pelakunya dan masyarakat luas. Bertolak dari situasi semacam itu, Konferensi Pertunjukan dan Teater muncul sebagai arena yang mempertemukan para praktisi seni, akademisi, dan peneliti. Forum tersebut menjadi ruang lega untuk saling menyerap pengetahuan, mengelaborasi ide maupun wacana, hingga berkonfrontasi.

Yayasan Umar Kayam, Festival Kebudayaan Yogyakarta, Pascasarjana ISI Yogyakarta, dan Indonesia Dramatic Reading Festifal menjadi pendukung utama konferensi tersebut. ’’Tahun ini menjadi yang pertama kalinya. Rencanaya akan diselenggarakan secara daring pada tanggal 10, 17, 23, dan 24 September,’’ terang Ficky Tri Sanjaya, narahubung Konferensi Pertunjukan dan Teater. Ficky yang aktif sebagai aktor pantomime tersebut menambahkan, konferensi ini rencananya akan diselenggarakan setiap tahun.

Pada edisi perdananya, Konferensi Pertunjukan dan Teater akan dibuka oleh dua pembicara kunci. Keduanya adalah Lono Simatupang dan Ugoran Prasad. Lono adalah antropolog yang juga menjabat sebagai Kepala Jurusan Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Pascasarjana Universitas Gajah Mada. Sementara, Ugoran adalah kandidat Doktor di The Graduate Center City University of New York yang aktif di Garasi Performance Institute. Keduanya akan membicarakan perkembangan kajian pertunjukan di Indonesia, selain merefleksikan perkembangan kajian-kajian pertunjukan dalam konteks global.

Konferensi lantas disusul dengan agenda berupa panel-panel yang membahas pertunjukan dan teater di berbagai wilayah Indonesia dari beragam sudut pandang. Ada tema tentang aktivisme seni, hingga desain interior dalam teater. Lalu, pemutaran dokumentasi pertunjukan yang diikuti dengan diskusi bersama para seniman penciptanya menjadi agenda lain konferensi. Beberapa kelompok teater yang akan menampilkan dokumentasi karyanya antara lain adalah Teater Satu (Lampung), dan Tony Broer (Bandung). Acara ini terbuka untuk umum dengan pendaftaran. (tir)